Mencari/Mentashih Pokok Masalah

May 17, 2009 at 7:38 pm Leave a comment

 
Cara Mentashih Pokok Masalah

Pada hakikatnya, kalangan ulama faraid
tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan
angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan, penj.).
Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan
keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. Selain itu, untuk
mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang
merupakan hak setiap ahli waris, sehingga tidak mengurangi ataupun
menambahkan. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para
ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh,
sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam.
Cara pentashihan yang biasa dilakukan para
ulama faraid seperti berikut:
  melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah
per kepalanya. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas
dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya,
maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Namun, bila jumlah per
kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada
–jumlah pokok masalahnya sudah habis, tetapi ada ahli waris yang belum
mendapat bagian– maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara
kedua hal itu ataukah tidak. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli
waris dengan jumlah per kepalanya, maka setiap anak berhak mendapat
bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya, dengan cara mengalikan jumlah
per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-‘aul-kannya. (Misalnya,
empat anak perempuan, dan bagiannya 2/3 dari 6, berarti 4, maka ada
kesamaan. Sebab setiap anak mendapat bagian satu).
Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per
kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-‘aul-kannya, maka hasil
dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Inilah yang
disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid.
  Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan
pokok masalah atau meng-‘aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah,
oleh ulama faraid disebut dengan juz’us sahm. Maksudnya, sebagai bagian
khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah.
Contoh amaliah tentang pentashihan pokok
masalah
  Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak
perempuan, ibu, ayah, dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki.
Maka pembagiannya seperti berikut:
  pokok masalahnya dari 6.
    Bagian keempat anak perempuan ialah dua per
tiga (2/3) berarti 4 bagian;
    Sang ayah seperenam berarti 1 bagian;
    sang ibu juga seperenam berarti satu bagian;
dan
    3 cucu perempuan dari keturunan anak
laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari
dua orang)
  Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah
anak perempuan ada 4, dan bagian yang mereka peroleh juga 4. Karena itu
tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah, sebab bagian yang mesti
dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi
memerlukan pecahan-pecahan. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas
dan mudah, setiap anak menerima satu bagian.
Contoh lain yang at-tamaatsul.
  Seseorang wafat dan meninggalkan ibu, dua
saudara perempuan seibu, dan empat saudara kandung perempuan. Maka
pembagiannya seperti berikut:
  pokok masalahnya 6, kemudian di-‘aul-kan
menjadi 7
    Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu
bagian
    bagian kedua saudara perempuan seibu
sepertiga (1/3) berarti dua bagian,
    bagian keempat saudara kandung perempuan
adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian.
  Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini,
kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. Sebab
jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. Bagi kedua
saudara perempuan seibu dua bagian, maka tiap orang mendapat satu bagian.
Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian, maka setiap orang
mendapat satu bagian. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak
memerlukan pentashihan pokok masalah. Dengan demikian, tahulah kita
bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul.
Contoh masalah yang at-tawaafuq.
1. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan
(8) anak perempuan, ibu, dan paman kandung. Maka pembagiannya seperti
berikut:
  pokok masalahnya dari 6
    Bagian kedelapan anak perempuan dua per
tiga (2/3) berarti empat (4) bagian;
    ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian;
dan
     sisanya (satu bagian) adalah bagian
paman kandung sebagai ‘ashabah.
  Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq
antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka
peroleh, yaitu dua (2). Angka dua itulah yang menurut istilah ulama
faraid sebagai bagian dari bagian juz’us sahm kemudian bagian dari
bagian itu dikalikan dengan pokok masalah, yakni angka enam (6). Maka 2
x 6 = 12. Itulah tashih pokok masalah.
2. seseorang wafat dan meninggalkan suami,
enam saudara kandung perempuan, dan dua orang saudara laki-laki seibu.
Maka pembagiannya seperti berikut:
  pokok masalahnya dari 6, kemudian
di-‘aul-kan menjadi 9.
    Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga
bagian,
    bagian keenam saudara kandung perempuan dua
per tiga (2/3), berarti empat bagian,
    bagian kedua saudara laki-laki seibu
sepertiga (1/3), berarti dua bagian.
  Dalam contoh di atas kita lihat ada
tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung
perempuan dengan jumlah per kepala mereka, yaitu dua (2). Kemudian kita
ambil separo jumlah per kepala mereka, berarti tiga (3), dan kita
kalikan dengan pokok masalah setelah di-‘aul-kan yakni angka sembilan
(9), berarti 3 x 9 = 27.
  Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya
menjadi pentashihan pokok masalah. Setelah pentashihan, maka
pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9), keenam
saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian, dan kedua saudara
laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27).
3. seseorang wafat dan meninggalkan suami,
anak perempuan, tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki, dan
saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:
  pokok masalahnya dari 12.
    Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian,
    bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6)
bagian,
    bagian cucu perempuan keturunan anak
laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian,
    bagian saudara kandung laki-laki satu
bagian (sisanya) sebagai ‘ashabah bin nafsihi.
Contoh dalam tabel
 

3

 

12

36

Suami 1/4

3

9

Anak perempuan 1/2

6

18

Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki
1/6

2

6

Saudara kandung laki-laki (‘ashabah)

1

3

  Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu
perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala
mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan),
karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya,
yakni 3 x 12 = 36, maka angka 36 itu berarti pokok masalah
hasil pentashihan.
     
4. seseorang wafat dan meninggalkan istri,
lima anak perempuan, ayah, ibu, dan saudara kandung laki-laki. Maka
bagian masing-masing seperti berikut:
  pokok masalahnya dari 24, kemudian
di-‘aul-kan menjadi 27
    Bagian istri 1/8 = 3;
    5 anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang
berarti 16;
    ayah memperoleh 1/6 berarti 4;
    Ibu mendapat 1/6 yang berarti 4; sedangkan
    bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang).
Tabel
 

5

 

24

27

135

Istri 1/8

3

15

Lima anak perempuan 2/3

16

80

Ayah 1/6

4

20

Ibu 1/6

4

20

Saudara kandung laki-laki (mahjub)

  Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak
perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka.
Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan).
Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-‘aul-kan
(yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka, yakni 27 x 5 =
135. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan.
Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz’us sahm.
     
5. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang
istri, tujuh anak perempuan, dua orang nenek, empat saudara kandung
laki-laki, dan saudara laki-laki seibu. Pembagiannya seperti berikut:
  Pokok masalahnya dari 24
    Ke-3 istri mendapat 1/8 = 3.
    ke-7 anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16,
    2 nenek 1/6-nya = 4,
    4 saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu
1 sebagai ‘ashabah, sedangkan saudara seibu mahjub.
Perhatikan tabel berikut:
 

28

24

672

3 istri bagiannya 1/8

3

84

7 anak perempuan 2/3

16

448

2 orang nenek 1/6

4

112

saudara kandung laki-laki (‘ashabah)

1

28

Saudara laki-lah seibu (mahjub

  Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak
perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada
perbedaan (tabaayun), begitu juga dengan bagian keempat
saudara kandung yang hanya satu bagian, dan jumlah per
kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). Untuk mentashih
pokok masalah dari contoh ini, kita kalikan jumlah per
kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala
saudara kandung (yakni 4), berarti 7 x 4 = 28. Angka
tersebut (yakni 28) merupakan juz’us sahm. Kemudian juz’us
sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24
= 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah
pentashihan. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam
contoh-contoh yang lain.

     
   

Copy Right
2009 Bassrah Blog

Entry filed under: Hukum Islam. Tags: .

Fatwa Riba dan Bunga Bank Saudara Kandung Seayah Mewaris Bersama Kakek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 5,318 hits

Last Comment

Archives

Hijriah

Masehi

May 2009
M T W T F S S
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: